News Update :
Home » » Jangan Salah Memaknai Emansipasi

Jangan Salah Memaknai Emansipasi

Penulis : Cik Siti on Sabtu, 04 Mei 2013 | 15.20



SELATPANJANG – Dalam rangka memeriahkan hari Kartini dan menyambut Hardiknas, Himpunan Wanita Karya menggelar Panggung Hiburan yang memberikan kesempatan kepada generasi muda dan para perempuan untuk tampil ujuk kebolehan atau bakat dalam bidang keseniaan. Panggung hiburan yang digelar di Taman Cik Puan Selatpanjang pada rabu (1/5) malam itu, menampilkan beberapa aksi tarian dan group band anak-anak remaja Selatpanjang.

“Panggung ini sengaja kita gelar untuk menyambut hari Kartini dan juga sekaligus Hari Pendidikan Nasional. Mudah-mudahan dengan memberikan kesempatan kepada mereka, ini bisa mendorong kreatifitas mereka serta pengembangan bakat yang selama ini mereka tidak punya kesempatan untuk tampil di muka umum,” ucap Ketua HWK Kabupaten Kepulauan Meranti, Khairiah Defril.

Tema yang kami usung adalah Dengan Semangat Kartini Kita Tingkatkan Peran Perempuan Demi Tercapainya Kesejahteraan Keluarga Menuju Masa Depan Kabupaten Kepulauan Meranti Yang Cemerlang, Gemilang dan Terbilang. Tema ini memberikan makna bahwa peran perempuan tidak lepas dari keluarga, meskipun ia seorang wanita karier, namun kariernya itu hendaknya memiliki tujuan untuk membantu suami demi terwujudnya kesejahteraan dalam keluarganya,” sebutnya.

Saat ini, sebutnya, kita sering terjebak dan salah memaknai emansipasi. Kami berharap emansipasi seperti yang diperjuangkan Raden Ajeng Kartini, tidak berlebih-lebihan. Bagaimanapun seorang perempuan berkarier, termasuk di pemerintahan maupun dunia politik, agar jangan lupa dengan kodratnya.

Bentuk emansipasi yang berlebih-lebihan atau melampaui kodrat seorang kaum hawa, antara lain perilaku para perempuan karier dengan gaji atau pendapatan besar, lalu terkesan mau mengatasi suami yang berpenghasilan rendah. Apalagi sebagai seorang istri atau ibu rumah tangga, tak selayaknya melupakan kodrat, serta tugas dan fungsinya.

Sikap seorang perempuan yang mau mengatasi atau mengendalikan suami selaku kepala rumah tangga itu, keliru. Sebab bagaimanapun, apalagi sesuai ajaran Islam, yang namanya suami itu adalah imam, yang berarti sebagai kepala rumah tangga.

Namun begitu, ia mengaku, wanita Indonesia patut bersyukur bisa berkarier serta melanjutkan pendidikan sampai jenjang yang lebih tinggi, atas perjuangan kaum perempuan terdahulunya, tak hanya RA Kartini, namun patut juga bersukur dengan pejuang perempuan lainnya seperti Tjut Nyak Dien (Aceh), Dewi Sartika (Jawa Barat) dan Maria Walanda Maramis (Sulawesi Utara). “Bahkan di Riau sendiri, kita punya tokoh perempuan yang membanggakan yaitu Tengku Agong Sultanah Latifah,” Sebut Khairiah.

Tampil dalam acara tersebut tarian kreasi melayu dari SD Negeri 1 Tebingtinggi, Spirit Dance yang membawakan tarian sufle dance, tampil juga Civil Emergency Band, Speedy Band dan beberapa band lainnya. Persembahan diawali dengan paduan suara antara seluruh peserta dan ibu-ibu pengurus HWK yang membawakan dua buah lagu, yaitu Ibu Kita Kartini dan Gebyar. Turut hadir dalam acara tersebut diantaranya Kepala Badan Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Kab. Kepulauan Meranti Drs. Defril MSi, Kepala Bank Riau Cabang Selatpanjang, Kepala Kantor Telkom Cabang Selatpanjang, dan beberapa tokoh masyarakat. ***







Share this article :

Posting Komentar

 
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Copyright © 2011. Meranti Updates . All Rights Reserved.
Design Template by Bakharuddin | Support by creating website | Powered by Blogger